NILAI
KARAKTER DALAM BUKU CERITA ANAK BERJUDUL GADO-GADO RASA MATEMATIKA KARYA GOL A
GONG DAN TIAS TATANKA
PROPOSAL SKRIPSI
OLEH
ISMAWATI
NPM
1010207
PROGRAM
STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS
ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
PGRI SEMARANG
2014
NILAI
KARAKTER DALAM BUKU CERITA ANAK BERJUDUL GADO-GADO RASA MATEMATIKA KARYA GOL A
GONG DAN TIAS TATANKA
PROPOSAL SKRIPSI
Diajukan
kepada Fakultas Ilmu Pendidikan
Universitas
PGRI Semarang untuk Penyusunan Skripsi
OLEH
ISMAWATI
NPM
1010207
PROGRAM
STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS
ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
PGRI SEMARANG
2014
PROPOSAL SKRIPSI
NILAI KARAKTER DALAM BUKU CERITA
ANAK BERJUDUL GADO-GADO RASA MATEMATIKA
KARYA GOL A GONG DAN TIAS TATANKA
Disusun dan diajukan oleh :
ISMAWATI
NPM 10120207
Telah disetujui oleh pembimbing
untuk dilanjutkan untuk
Disusun menjadi skripsi
Pada tanggal
.......................................
|
Pembimbing I,
Dr.
Rahmat Rais, M. Ag
NPP.
104. 401. 266
|
Pembimbing II,
Riris
Setyo Sundari, S.Pd.,M.Pd.
NPP.
108701279
|
NILAI KARAKTER DALAM BUKU CERITA
ANAK BERJUDUL GADO-GADO RASA MATEMATIKA
KARYA GOL A GONG DAN TIAS TATANKA
A.
Konteks
Penelitian
Kasus-kasus
yang mengindikasikan rendahnya karakter manusia di Indonesia semakin merajalela.
Banyak pemberitaan-pemberitaan tentang tindakan tidak bekarakter yang dilakukan
oleh anak-anak. Contohnya kasus di Palu,
gara-gara futsal, puluhan siswa SD tawuran (Yosvidar, 2012). Masih banyak
kasus-kasus yang sejenis.
Data akhir tahun yang dihimpun Komisi
Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) menunjukan angka memprihatinkan.
Sebanyak 82 pelajar tewas sepanjang2012. “Komnas PA mencatat 147 kasus tawuran.
Dari 147 kasus tersebut, sudah memakan korban jiwa sebanyak 82 anak”, ujar
Arist dalam konferensi pers catatan akhir tahun di Kantor Komnas PA, Jalan TB
Simatupang, Pasar Rebo, Jakarta Timur, Jumat (20/12/2012) pagi. Menurut Arist,
angka itu mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya yang hanya mencapai 128
kasus. Kondisi itu pun semakin menunjukkan kekerasan sesama anak dalam bentuk
tawuran menjadi fenomena sosial yang patut diwaspadai (Kuwado, 2012).
Anak-anak saja sudah menampakkan
karakter yang bobrok. Lantas, bagaimana nasib bangsa ini.
Masalah
karakter ini sudah lama menjadi perhatian pemerintah. Seperti yang tercantum
dalam UU RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, khususnya
pasal 3 yang menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan
kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam
rangka mencerdaskan kehidupan bangsa,
bertujuan untuk berkembangnya potensi siswa agar menjadi manusia yang beriman
dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu,
cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta
bertanggung jawab. Tetapi, mengapa masih banyak terjadi kasus-kasus tidak berkarakter ini.
Peran
sekolah, keluarga dan masyarakat sangat
penting dalam hubungannya dengan perkembangan anak. Guru dan kepala sekolah
bertanggung jawab atas siswa di sekolah. Namun keluarga dan masyarakatlah yang
paling dekat dengan anak-anak. Sekolah, keluarga dan masyarakat harus mampu
bekerja sama dalam upaya memberikan keteladanan dengan karakter yang baik pada
anak. Pengawasan dan keteladanan sangat perlu diberikan.
Pembentukan
karakter pada anak harus dilakukan sejak dini. Salah-satunya adalah dengan membacakan
cerita atau sastra pada anak yang
merupakan salah satu cara berkomunikasi
dengan si kecil. Sastra anak sangat menunjang dalam pembentukan karakter anak.
Sastra anak akan mendekatkan anak pada
nilai-nilai dalam kehidupan.
Noor (2011) berpendapat bahwa Nilai-nilai
yang terkandung di dalam karya sastra diresapi oleh anak dan secara tidak sadar
merekonstruksi sikap dan kepribadian mereka. Karya sastra selain sebagai penanaman
nilai-nilai dan karakter, serta merangsang imajinasi kreativitas anak berpikir
kritis melalui rasa penasaran akan jalan cerita dan metafora-metafora yang
terdapat di dalamnya.
Orang dewasa harus tetap selalu membimbing dan mengarahkan
anak-anak dalam memilih sastra atau cerita anak. “Buku cerita fiksi anak yang
baik adalah buku cerita yang mengantarkan dan berangkat dari kacamata anak” (Nurgiyantoro, 2010: 219). Dan tentunya yang mengandung
nilai-nilai karakter. Jadi anak mudah
memahami isi dalam cerita tersebut serta mendapatkan nilai-nilai yang bermakna
untuk hidupnya.
Perlu adanya cerita yang menarik untuk dikonsumsi
anak-anak. Tokoh utamanya baik untuk ditiru oleh anak-anak. Salah satu cerita
anak yang memiliki nilai-nilai karakter positif adalah terdapat dalam buku
cerita anak berjudul Gado-Gado Rasa Matematika. Hal ini dapat dilihat dari
kutipan-kitipan yang ada di dalam cerita. Contohnya, kutipan tentang kerja
keras tokoh yaitu “Yuni bisa mencuci sepulang sekolah, Mak. Lalu Yuni jemur dan
akan Yuni setrika keesokan harinya. Boleh ya, Mak?” (Gong, 2011 : 36). Dari
kutipan tersebut menggambarkan kerja keras tokoh utama. Yuni rela menggantikan
emaknya untuk menjadi buruh cuci baju. Selain itu, ada sebuah kutipan “Karena
sudah waktunya shalat Zuhur, Yuni menumpang shalat di ruang setrika” (Gong,
2011: 76). Dari kutipan tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa Yuni adalah
anak yang taat beribadah sebagai bukti ketaatannya kepada Tuhan Yang Maha Esa,
karena melaksanakan perintahNya yaitu melaksanakan shalat Zuhur dengan tepat
waktu.
Buku Gado-gado Rasa Matematika ini merupakan karya
dari seorang penulis yang hebat yaitu Gol A Gong dan Tias Tatanka. Mereka
adalah suami istri yang mencintai buku dan anak-anak. Mereka mengelola pusat
belajar bernama Rumah Dunia. Rumah Dunia adalah tempat bagi anak-anak dan
remaja untuk berkarya. Gol A Gong juga pernah bekerja di Indosiar (1995)
sebagai skript writer dan RCTI (1996-
2008) sebagai senior creative. Kini
menjadi asisten manajer di Banten TV, TV lokal kebanggaan wong Banten. Sudah
sekitar 70 novel ditulisnya.
Dari berbagai karya Gol A Gong dan Tias Tatanka,
peneliti memilih buku Gado-Gado Rasa Matematika. Buku cerita anak ini cocok
untuk dimanfaatkan sebagai teladan bagi anak-anak. Lihat saja, banyak anak-anak
yang tidak bersemangat untuk belajar dengan baik. Hal ini dapat kita buktikan
dari semakin banyaknya kasus tawuran oleh pelajar. Dalam cerita ini, mencontohkan
perjuangan seorang anak untuk tetap melanjutkan sekolahnya. Oleh karena itu
penting menganalisis buku cerita anak yang berjudul Gado-Gado Rasa Matematika
untuk mengetahui nilai-nilai karakter apa saja yang ingin disampaikan penulis pada
pembaca sehingga diharapkan dapat memberikan cerita teladan dengan nilai
karakter yang baik dan sesuai dengan perkembangan anak. Dan pada akhirnya,
peneliti bermaksud melakukan penelitian mengenai nilai karakter dalam buku cerita
anak berjudul Gado-Gado Rasa Matematika
karya Gol A Gong dan Tias Tatanka.
B.
Fokus
Penelitian
Dari uraian
konteks penelitian, peneliti membuat fokus penelitian. Adapun fokus penelitian tersebut
adalah “Apa sajakah nilai karakter dalam buku cerita anak berjudul Gado-Gado Rasa Matematika karya Gol A
Gong dan Tias Tatanka”.
C.
Tujuan
Penelitian
Setiap
penelitian pasti memiliki sebuah tujuan tertentu. Penelitian ini bertujuan
untuk menganalisis nilai karakter dalam buku cerita anak berjudul Gado-Gado Rasa Matematika karya Gol A
Gong dan Tias Tatanka yang mendidik karakter anak.
D.
Manfaat
Penelitian
1. Secara
teoritis
a. Bagi
guru,
1)
Menambah bahan kajian untuk lebih
berinovasi dan kreatif dalam menganalisis nilai karakter dalam buku cerita anak
berjudul Gado-Gado Rasa Matematika
karya Gol A Gong dan Tias Tatanka ini.
2)
Menambah wawasan dan pengetahuan tentang
nilai- nilai karakter dalam buku cerita anak berjudul Gado-Gado Rasa Matematika karya Gol A Gong dan Tias Tatanka.
b. Bagi
penulis,
1) Menambah
pengalaman baru sebagai acuan untuk penelitian yang akan datang.
2. Secara
praktis
a. Bagi
guru, sebagai bahan pertimbangan untuk menanamkan nilai karakter yang baik
melalui buku cerita anak berjudul Gado-Gado
Rasa Matematika karya Gol A Gong dan Tias Tatanka ini
b. Bagi
siswa, sebagai teladan dan motivasi untuk menjadi pribadi yang memiliki nilai
karakter yang lebih baik.
c. Bagi
orang tua, sebagai solusi untuk mendidik karakter anak sejak dini.
d. Bagi
Perpustakaan sekolah, sebagai referensi untuk penambahan buku yang bernilai
karakter.
E.
Penegasan Istilah
Supaya tidak
menimbulkan salah penafsiran yang berkaitan dengan judul. Dalam penelitian ini
perlu adanya penjelasan, antara lain:
1.
Nilai
Menurut
Steeman (dalam Adisusilo, 2012: 56) “Nilai adalah sesuatu yang memberi makna
pada hidup, yang memberi acuan, titik tolak dan tujuan hidup”.
2.
Karakter
“Karakter
merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri,
sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap,
perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama,
budaya dan adat istiadat” (Zubaedi, 2011: 10). Jadi dapat disimpulkan karakter
adalah sifat-sifat baik dalam diri seseorang yang tercermin dalam pola pikir, perasaan,
perkataan dan perbuatannya. Karakter seseorang dapat dibentuk dan juga
dikembangkan.
3.
Cerita Anak
Cerita
anak adalah cerita yang ditulis untuk anak. Cerita anak merupakan salah
satu dari sastra anak. Secara teoritis,
sastra anak adalah sastra yang dibaca anak-anak “dengan bimbingan dan
pengarahan anggota dewasa suatu masyarakat, sedang penulisannya juga dilakukan
oleh orang dewasa” Davis dalam Sarumpaet (2010: 2).
“Buku
cerita fiksi anak yang baik adalah buku cerita yang mengantarkan dan berangkat
dari kacamata anak” (Nurgiyantoro, 2010:
219). Jadi anak mudah memahami isi dan makna yang terkandung dalam cerita
tersebut baik secara tersirat maupun tersurat.
4.
Gado-Gado Rasa Matematika
Buku
cerita anak yang berjudul Gado-Gado Rasa Matematika ini menceritakan perjuangan seorang anak untuk
melanjutkan sekolahnya ke SMP. Anak itu bernama Yuni. Yuni adalah seorang siswi
SD Tunas Muda. Walau sudah kelas enam SD, perawakannya mungil dan imut. Yuni
berasal dari keluarga yang tidak mampu. Sejak Abah meninggal dunia, emaknya
terpaksa berjualan gado-gado untuk menghidupi mereka sekeluarga. Meskipun Yuni
anak yang cerdas, ia terancam tidak bisa melanjutkan sekolah ke SMP karena tidak
ada biaya. Penghasilan Emak berjualan gado-gado dan sebagai buruh cuci hanya
cukup untuk dimakan sehari-hari. Yuni juga rela menjadi buruh cuci di rumah Andita,
teman sekelasnya. Setelah tugas mencucinya selesai, Yuni pun mengajar les
matematika. Banyak sekali perjuangan dan pengorbanan yang dilakukan Yuni hingga
akhirnya dia bisa melanjutkan sekolahnya ke SMP.
F.
Kajian
Teori
1. Cerita
Anak
a. Hakikat
Cerita Anak
Karakteristik cerita anak tidak berbeda halnya
dengan hakikat sastra pada umumnya. Secara teoritis, sastra anak adalah sastra
yang dibaca anak-anak “dengan bimbingan dan pengarahan anggota dewasa suatu
masyarakat, sedang penulisannya juga dilakukan oleh orang dewasa” (Davis dalam
Sarumpaet, 2010: 2). Jadi, orang tua dan juga guru serta orang dewasa yang lain
harus tetap memberikan bimbingan kepada anak perihal bacaan yang memiliki
karakter baik dan sesuai dengan anak.
“Sastra anak adalah sastra yang secara emosional
psikologis dapat ditanggapi dan dipahami oleh anak, dan itu pada umumnya
berangkat dari fakta yang kongkret dan mudah diimajinasikan” (Nurgiyantoro,
2010: 6). Jadi isi kandungan dalam sastra anak harus sesuai dengan pengalaman
dan pengetahuan serta dunia anak. Seperti pendapat Lukens (dalam Nurgiyantoro, 2010:
10) “Cerita anak adalah cerita yang menceritakan tentang gambar-gambar dan
binatang-binatang maupun manusia dengan lingkungan”.
Cerita yang baik adalah cerita yang dapat menyampaikan pesan kepada
sasarannya. Untuk itu perlu memiliki konsep dasar yang jelas. Konsep dasar
cerita anak terdiri atas tiga hal utama berikut: 1) Keterlibatan, 2) Berada
dalam dunia anak, 3) Memiliki nilai pesan.
b.
Manfaat Cerita Anak
Cerita anak memiliki manfaat yang besar untuk perkembangan anak dalam
menyongsong kehidupannya.
Lewat cerita anak, bahkan kita yang
dewasa, dapat memperoleh, mempelajari, dan menyikapi berbagai persoalan hidup
dan kehidupan, manusia dan kemanusiaan. Cerita menawarkan dan mendialogkan
kehidupan dengan cara-cara yang menarik dan konkret. Lewat berbagai cerita
tersebut anak, dan sesekali lagi juga kita yang dewasa, memperoleh berbagai
informasi yang diperlukan dalam kehidupan (Nurgiyantoro, 2010: 2)
“Anak
akan secara total masuk dan terlibat dalam alur cerita yang dibaca atau
didengarnya seolah-olah diri sendiri
ikut serta didalamnya” (Nurgiyantoro, 2010: 67). Jadi sebagai orang dewasa baik
orang tua maupun guru harus pintar dalam memilihkan bacaan yang sesuai dengan anak.
Menurut
Sihabudin, dkk (2009), Ditinjau dari berbagai aspek, manfaat cerita bagi anak
adalah sebagai berikut: 1) Membantu pembentukan pribadi dan moral anak, 2)
Menyalurkan Kebutuhan imajinasi dan fantasi, 3) Memacu kemampuan verbal anak,
4) Merangsang minat menulis anak, 5) Merangsang minat baca anak, 6) Membuka
cakrawala pengetahuan anak.
c. Unsur
Cerita Anak
Di dalam sebuah sastra memiliki elemen yang
membentuknya. Elemen tersebut adalah unsur intrinsik dan ekstrinsik. Menurut
Nurgiyantoro (2010: 221), bahwa “unsur intrinsik adalah unsur-unsur cerita
fiksi yang secara langsung berada di dalam, menjadi bagian, dan ikut membentuk
eksistensi cerita yang bersangkutan”.
Dalam pembicaraan unsur cerita fiksi anak berikut
lebih difokuskan terhadap unsur-unsur intrinsik tanpa menisbikan peran unsur
ekstrinsik.
1) Tokoh
a) Hakikat
Tokoh
Tokoh cerita
dimaksudkan sebagai pelaku yang dikisahkan perjalanan hidupnya dalam cerita
fiksi lewat alur baik sebagai pelaku maupun penderita berbagai peristiwa yang
diceritakan. Tokoh- tokoh cerita fiksi hadir sebagai seseorang yang berjati
diri, bukan sebagai sesuatu yang tanpa karakter. Hal itulah yang membedakan
antara tokoh yang satu dengan tokoh yang lainnya. Lukens (dalam Nurgiyantoro,
2010: 75) berpendapat bahwa “tokoh cerita dapat dipahami sebagai kumpulan
kualitas mental, emosional, dan sosial yang membedakan seseorang dengan orang
lain”.
b) Jenis
Tokoh
Menurut
Nurgiyantoro (2010: 224) jenis tokoh cerita fiksi anak dapat dibedakan ke dalam
bermacam kategori tergantung dari sudut pandang mana kita melihatnya. Misalnya,
jika dilihat berdasarkan realitas sejarah, tokoh dapat dibedakan ke dalam tokoh
rekaan dan tokoh sejarah, Berdasarkan wujudnya dapat dibedakan ke dalam tokoh
manusia, binatang atau objek lain, berdasarkan kompleksitas karakter dapat
dibedakan ke dalam tokoh sederhana dan tokoh bulat, dan lain-lain.
Tokoh Rekaan dan tokoh
sejarah. Tokoh- tokoh cerita fiksi juga
merupakan tokoh rekaan. Artinya mereka bukan merupakan tokoh yang secara
faktual dapat ditemukan di dunia nyata atau di dalam sejarah. Tokoh-tokoh itu
adalah imajinatif, dalam arti tokoh yang diciptakan lewat kekuatan imajinatif
pengarang. Tokoh sejarah yang diangkat ke dalam cerita fiksi juga tidak dapat
seratus persen mempertahankan jati dirinya yang sesungguhnya. Hal itu terutama
disebabkan hakikat fiksi adalah karya imajinatif yang di dalamnya terkandung
unsur penciptaan. Hal itu sepintas seperti bertentangan dengan hakikat sejarah
yang bersifat empirik dan tidak dapat dimanipulasikan. Namun, kedua hal
tersebut yaitu kutup rekaan dan historis dapat dipadukan lewat kerja imajinatif
dalam bentuk cerita.
Tokoh Protagonis dan
antagonis. Tokoh protagonis adalah tokoh yang
berkarakter baik dan tokoh antagonis adalah tokoh yang berkarakter jahat. Tokoh
protagonis ini pulalah yang sering dijadikan pahlawan, karena “bertugas”
membawakan nilai-nilai yang sering menjadi idealisme pembaca. Sebaliknya, tokoh
antagonis sering menjadi tokoh yang disikapi secara antipati oleh pembaca
karena sifatnya yang jahat. Cerita fiksi menjadi menarik dan bahkan mencekam
karena terjadi pertentangan di antara kedua kelompok tokoh yang berseberangan
tersebut.
Tokoh putih dan hitam.
Istilah tokoh putih dan tokoh hitam lazimnya dimaksudkan untuk menyebut tokoh
yang berkarakter baik dan buruk. Tokoh protagonis yang merupakan tokoh hero di
atas dikategorikan sebagai tokoh putih , yaitu yang berkarakter baik dan
sekaligus membawakan dan memperjuangkan nilai- nilai kebenaran. Sebaliknya,
tokoh antagonis yang pada dasarnya sebagai tokoh berkarakter jahat dan sebagai
pemicu konflik dan pertentangan – pertentangan dikategorikan sebagai tokoh
hitam.
Tokoh datar dan tokoh
bulat. Pembagian karakter tokoh cerita ke dalam karakter
datar ( flat character) dan bulat ( round character) berasal dari Forster),
yaitu berkaitan dengan kadar kompleksitas karakter seorang tokoh cerita.
Semakin banyak dan bervariasi karakter seseorang tokoh yang berhasil
diidentifikasi, dan bahkan tidak jarang mengejutkan, berarti tokoh tersebut
dapat dikategorikan sebagai tokoh bulat. Sedangkan Tokoh berkarakter datar
adalah tokoh yang hanya memiliki karakter yang “itu-itu” saja.
Tokoh statis dan
berkembang. Tokoh jenis ini ada kaitannya dengan
tokoh sederhana dan bulat di atas. Tokoh statis dimaksdukan sebagai tokoh yang
secara esensial karakternya tidak mengalami perkembangan. Sejak awal
kemunculannya hingga akhir cerita tokoh tidak mengalami perubahan dan
perkembangan karakter. Artinya, karakter bersifat konstan, jika baik ia akan
terus-menerus terlihat baik, dan demikian juga sebaliknya.Sedangkan tokoh
berkembang adalah tokoh yang mengalami perubahan dan perkembangan karakter
sejalan dengan alur cerita.
2) Alur
Cerita
Alur berhubungan dengan berbagai hal seperti
peristiwa, konflik yang terjadi dan akhirnya mencapai klimaks, serta berbagai
kisah itu diselesaikan. Alur berkaitan dengan masalah bagaimana peristiwa,
tokoh dan segala sesuatu itu digerakkan, dikisahkan sehingga menjadi sebuah
rangkaian cerita yang padu dan nikmat.
3) Latar
Latar (setting) dapat dipahami sebagai landasan
tumpu berlangsungnya berbagai peristiwa dan kisah yang diceritakan dalam cerita
fiksi. Latar menunjuk pada tempat, yaitu lokasi di mana cerita itu terjadi,
waktu, kapan cerita itu terjadi, dan lingkungan sosial-budaya, keadaan
kehidupan bermasyarakat tempat tokoh dan peristiwa terjadi. Kejelasan latar ini
penting agar pembaca mampu mengembangkan imajinasinya dan mampu mengikuti alur.
Ada beberapa
unsur dalam latar yaitu latar tempat, waktu dan sosial-budaya. Latar tempat
merupakan tempat di mana cerita yang dikisahkan itu terjadi. Unsur latar ini
penting karena akan membantu anak memahami dan mengembangkan imajinasinya.
Latar waktu dimaksudkan kapan terjadinya berbagai macam peristiwa yang
dikisahkan dalam cerita fiksi. Sedangkan latar sosial-budaya dipahami sebagai
keadaan kehidupan sosial-budaya masyarakat yang diangkat dalam cerita tersebut.
4) Tema
Tema merupakan
dasar pengembangan sebuah cerita. Tema dijabarkan atau dikonkretkan lewat
unsur-unsur intrinsik yang lain terutama tokoh, alur, dan latar. Pemahaman
terhadap tema suatu cerita fiksi adalah pemahaman terhadap makna cerita itu
sendiri. Tema sebuah cerita fiksi merupakan gagasan utama atau makna utama
cerita.
5) Moral
Moral, amanat atau message dapat dipahami sebagai
sesuatu yang ingin disampaikan kepada pembaca. Sesuatu itu berkaitan dengan hal
yang positif, bermanfaat bagi kehidupan dan mendidik. Moral memang berhubungan
dengan masalah baik atau buruk. Akan tetapi moral disini lebih condong pada
hal-hal yang baik.
6) Sudut
Pandang
Sudut pandang dapat dipahami sebagai cara sebuah
cerita dikisahkan. Sudut pandang pada hakikatnya adalah sebuah cara, strategi
atau siasat yang secara sengaja dipilih pengarang untuk mengungkapkan cerita
dan gagasannya.
2. Perkembangan
Karakter Anak
Setiap anak memiliki
kemungkinan mengalami perubahan pada karakternya. Menurut Piaget (dalam
Nurgiyantoro, 2010: 54) Perubahan-perubahan penilaian moral anak yang dimaksud
antara lain adalah sebagai berikut:
a. Penilaian
anak kecil terhadap masalah atau tindakan baik dan buruk berdasarkan
kemungkinan adanya hukuman dan hadiah yang diperoleh dari dewasa; artinya, anak
masih terkendala oleh aturan yang dibuat oleh dewasa. Pada usia anak yang lebih
lanjut terdapat standar penilaian tentang baik dan buruk tersebut dari
kelompoknya, maka kemudian anak mulai secara sadar memahami situasi kapan dapat
membuat aturan sendiri.
b. Penilaian
tingkah laku dalam kacamata anak kecil hanya dapat dibedakan ke dalam baik dan
buruk, tidak ada alternatif lain. Pada usia anak yang lebih kemudian terdapat
kemauan untuk mempertimbangkan lingkungan dan situasi yang membuat legitimasi
adaanya perbedaan pendapat.
c. Penilaian
anak kecil terhadap suatu tindakan cenderung didasarkan pada konsekuensi yang
terjadi kemudian tanpa memperhatikan pelakunya. Namun, dalam usia selanjutnya
sebagian anak mulai mengubahnya dengan memperhatikan aspek motivasi daripada
sekadar konsekuensi untuk menentukan kelayakan tingkat kesalahan.
d. Pandangan
anak kecil terhadap tingkah laku buruk dengan hukuman berjalan bersama, semakin
besar kesalahan akan semakin berat hukumannya. Namun, bagi anak dalam usia yang
lebih kemudian, mereka tidak akan begitu saja menerima keadaan itu. Anak mulai
tertarik untuk mencari hukuman yang lebih fair
berdasarkan aturan yang ada di dalam kelompok.
Kohlberg dalam Nurgiyantoro (2010:
55) mengidentifikasi perkembangan moral anak kedalam enam tahapan. Keenam
tahapan yang dimaksud adalah sebagai berikut. Tahap 1: penghormatan tanpa
pemertanyaan terhadap kekuatan yang ada diluar jangkauan; masalh baik dan
buruk, boleh dan tidak boleh, ditentukan oleh konsekuensi fisik yang diterima
terhadap suatu tindakan yang dilakukan. Tahap 2: hubungan dipandang dalam
pemahaman marketplace dari pada loyalitas, keadilan, atau rasa terima
kasih. Anak berprinsip bahwa “jika anda mencubit saya, saya pun akan mencubit
anda”. Tahap 3: berorientasi pada anak baik, pada tingkah laku yang baik; anak
mengkonfirmasikan gambaran stereotip dari tingkah laku orang pada umumnya.
Tingkah laku yang baik adalah tingkah laku yang mendapat persetujuan, demikian
pula yang sebaliknya. Tahap 4: orientasi sampai ke pemilik otoritas, aturan
yang pasti, dan konvensi sosial. Tingkah laku yang baik kini juga dipahami
sebagai aktivitas melakukan tugas dan kewajiban, hormat kepada orang lain, dan
tunduk pada aturan sosial. Tahap 5: kriteria tingkah laku yang benar kini
dipahami atau didasarkan dalam kaitannya dengan aturan umumyang sadar dan yang
disetujui oleh atau telah menjadi konvensi masyarakat. Tahap 6:
keputusan-keputusan individual kini didasarkan pada kata hati, hati nurani, dan
etika yang berlaku secara konsisten dan universal.
Kohlberg
dalam Nurgiyantoro (2010: 56) melukiskan tiga tingkatan alasan moral sebagai
berikut:
Tingkat
1, pra-conventional morality (anak usia 4-10 tahun) anak masih di bawah
pengawasan orang tua dan lain-lain, tunduk pada peraturan untuk mendapatkan
hadiah atau menghindari hukuman.
Tingkat
2, conventional morality (anak berusia 10-13 tahun). Anak-anak telah
menginternalisasikan figur kekuasaan standar. Mereka patuh terhadap peraturan
untuk menyenangkan orang lain atau mempertahankan perintah.
Tingkat
3, post-conventional morality (anak usia 13 tahun atau lebih). Moralitas
sepenuhnya internal. Dewasa ini orang-orang telah mengenal beberapa konflik
standar moral dan memilih diantara standar tersebut.
3. Nilai
Karakter
Menurut
Steeman (dalam Adisusilo, 2012: 56) “Nilai adalah sesuatu yang memberi makna
pada hidup, yang memberi acuan, titik tolak dan tujuan hidup”. Nilai adalah
sesuatu yang dijunjung tinggi, yang dapat mewarnai dan menjiwai tindakan
seseorang. Nilai akan memberikan acuan kepada manusia untuk bisa melalukan
hal-hal kebaikan dalam hidupnya.
Aristoteles
dalam sudrajat (2011: 49) mendefiniskan “karakter yang baik sebagai tingkah
laku yang benar, tingkah laku yang benar dalam hubungannya dengan orang lain
dan juga dengan diri sendiri”. Selain itu, Winataputra (dalam Munaris, 2011: 89)
menyatakan “karakter dapat kita maknai sebagai kehidupan berperilaku baik/
penuh kebajikan, yakni berperilaku baik terhadap pihak lain (Tuhan Yang Maha
Esa, manusia, dan alam semesta) dan terhadap diri sendiri”. Jadi, Berbuat baik
tidak hanya terhadap orang lain, akan tetapi juga terhadap Tuhan Yang Maha Esa,
alam semesta dan diri sendiri.
Suyanto dalam Haryanto (2012) juga mendefinisikan
“karakter sebagai cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu
untuk hidup dan bekerja sama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa,
maupun negara”. Dalam lingkungan apapun, kepada siapapun dan kapanpun
juga kita harus selalu berpikir dan berperilaku yang baik. Karena dalam hidup
ini kita tidak sendirian, akan tetapi hidup bersosial dengan yang lain.
Dari semua pendapat tentang karakter, peneliti dapan mengambil sebuat
kesimpulan. Disini dapat disimpulkan bahwa karakter itu adalah pola pikir, pola
sikap dan pola perilaku yang harus kita laksanakan dalam kehidupan ini baik
yang berhubungan dengan Sang Pencipta, sesama manusia, alam semesta dan diri
kita sendiri. Jadi, setiap dari kita wajib memikili karakter yang baik.
Banyak
karakter yang perlu dikembangkan. Agar terciptanya kehidupan yang lebih nyaman.
Zulhan dalam Suharjana (2012: 193) menyatakan bahwa karakter manusia yang perlu
dikembangkan adalah: a. jujur, menepati janji, memiliki loyalitas tinggi,
integritas pribadi (komitmen, disiplin, selalu ingin berprestasi); b. mementingkan
kepentingan umum di atas kepentingan pribadi, siap dengan perbedaan dan tidak
merasa diri paling benar; c. bertanggung jawab; d. sikap terbuka, tidak
memihak, mau mendengarkan orang lain, dan memiliki empati; dan e. menunjukkan
perilaku kebaikan, hidup dengan nilai-nilai kebenaran, berbagi kebahagiaan
dengan orang lain, bersedia menolong orang lain, tidak egois, tidak kasar, dan
sensitif terhadap perasaan orang lain.
Menurut
Sudrajat (2011: 55-56) Nilai-nilai yang ditanamkan dan dikembangkan pada
sekolah-sekolah di Indonesia beserta deskripsinya adalah sebagai berikut:
1) Religius. Sikap dan
perilaku patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap
pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain. 2)
Jujur. Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang
selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan. 3) Toleransi.
Sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat,
sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya. 4) Disiplin. Tindakan
yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.
5) Kerja Keras. Perilaku yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh dalam mengatasi
berbagai hambatan belajar dan tugas, serta menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya.
6) Kreatif. Berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil
baru dari sesuatu yang telah dimiliki. 7) Mandiri. Sikap dan perilaku yang
tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas.
Demokratis. Cara berfikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama hak dan
kewajiban dirinya dan orang lain. 9) Rasa Ingin Tahu. Sikap dan tindakan yang
selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang
dipelajarinya, dilihat, dan didengar. 10) Semangat Kebangsaan. Cara berpikir,
bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di
atas kepentingan diri dan kelompoknya. 11) Cinta Tanah Air. Cara berfikir,
bersikap, dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan
yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan
politik bangsa. 12) Menghargai Prestasi. Sikap dan tindakan yang mendorong
dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui,
serta menghormati keberhasilan orang lain. 13) Bersahabat/Komuniktif. Tindakan
yang memperlihatkan rasa senang berbicara, bergaul, dan bekerja sama dengan
orang lain. 14) Cinta Damai. Sikap, perkataan, dan tindakan yang menyebabkan
orang lain merasa senang dan aman atas kehadiran dirinya. 15) Gemar Membaca.
kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan
kebajikan bagi dirinya. 16) Peduli Lingkungan. Sikap dan tindakan yang selalu
berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya, dan
mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi.
17) Peduli Sosial. Sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada
orang lain dan masyarakat yang membutuhkan. 18) Tanggung-jawab. Sikap dan
perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya
dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan
budaya), negara dan Tuhan Yang Maha Esa.
4. Kajian
Hasil Penelitian Yang Relevan
Penelitian tentang cerita anak
pernah dilakukan oleh Zubaral Hadid. Masalah
yang dikaji dalam penelitian ini adalah “Apa sajakah pesan moral dalam kumpulan
Kisah Abu Nawas karya Rahimsyah bagi siswa sekolah dasar?”. Penelitian
ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis pesan moral dalam kumpulan
Kisah Abu Nawas karya Rahimsyah bagi siswa sekolah dasar. Diharapkan
penelitian ini dapat memberikan pesan moral yang baik bagi siswa Sekolah Dasar.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian sastra yang
bersifat deskriptif kualitatif. Penelitian ini menganalisis seluruh kisah Abu
Nawas pada buku kumpulan kisah Abu Nawas karya Rahimsyah yang berjumlah 25
cerita (Rahimsyah, 2011). Judul cerita yaitu: “Abu Nawas Gila”, “Memindahkan
Istana ke Atas Gunung”, “Abu Nawas Mendemo Tuan Kadi”, “Membalas Perbuatan
Raja”, “Mengecoh Raja”, “Debat Kusir tentang Ayam”, “Mengecoh Gajah”, “Pekerjaan
yang Mustahil”, “Memenjarakan Angin”, “Ibu Sejati”, “Hadiah Bagi Tebakan Jitu”,
“Pintu Akhirat”, “Diusir dari Baghdat”, “Merayu Tuhan”, “Raja Dijadikan Budak”,
“Abu Nawas Mati”, “Memantati Raja”, “Ketenangan Hati”, “Manusia Bertelur”,
“Peringatan Aneh”, “Menjadi Tabib”, “Pilihan yang Tepat”, “Strategi Maling”,
“Menjebak Pencuri”, “Tipu Dibalas Tipu”, dan “Tugas yang Mustahil”. Berdasarkan
hasil penelitian tersebut dapat
disimpulkan bahwa terdapat banyak nilai moral dalam kisah Abu Nawas karya
Rahimsyah. Nilai moral tersebut terwujud melalui bahasa yang digunakan, cara
bercakap-cakap, dan tindakan yang dilakukan. Nilai moral tersebut bersifat
mendidik, menasihati, dan memberi contoh untuk berbuat yang lebih baik.
Penelitian
juga telah diteliti oleh Munaris yaitu Pemanfaatan
Buku Kecil-Kecil Punya Karya Sebagai Bahan Pembelajaran Sastra Untuk Pengembangan
Karakter. Kecil-Kecil Punya Karya ( KKPK
) merupakan label/nama seri terbitan karya sastra yang ditulis oleh anak-anak
yang di terbitkan oleh Dar! Mizan. KKPK lahir pada Desember 2003. Penulis yang
pertama kali mengusung seri KKPK adalah Sri Izzati, 8 tahun (Pengantar Penerbit
dalam Salsa, 2011). Salah satu keunggulan menjadikan KKPK sebagai bahan belajar
sastra adalah karya ini terbebas dari pornografi karena penulis-penulis KKPK adalah
anak-anak. Karya sastra yang diterbitkan oleh Dar! Mizan yang berlabel Kecil-kecil Punya Karya (KKPK) cocok
untuk anak, terutama usia SD karena memang karya sastra tersebut dikarang dan
diperuntukkan oleh dan untuk anak. Berkaitan dengan pendidikan karakter, karya
sastra dalam KKPK dapat dijadikan bahan bacaan dengan dipilih yang sesuai
dengan karakter yang hendak ditanamkan pada siswa. Kutipan-kutipan dari KKPK
tersebut merupakan contoh adanya bahan untuk menanamkan nilai karakter
melalui cerita anak. Karakter yang
terkandung dalam KKPK tersebut diantararanya adalah cinta Tuhan dan kebenaran, baik
dan rendah hati, tanggung jawab, mandiri, lapang dada dan pantang menyerah.
G.
Metodologi
Penelitian
1.
Pendekatan Penelitian
Secara
umum metode penelitian diartikan sebagai cara ilmiah untuk mendapatkan data
dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Kunci dalam penelitian adalah menggunakan
cara ilmiah, data tujuan, dan kegunaan tertentu. “Cara ilmiah berarti kegiatan
penelitian didasarkan pada ciri-ciri keilmuan, yaitu rasional, empiris, dan
sistematis” (Sugiyono, 2010: 3).
Dalam
penelitian ini akan menggunakan pendekatan penelitian kualitatif.
Pendekatan kualitatif adalah penelitian
yang dimaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subyek
penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dll., secara
holistik, dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada
suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah
( Moleong, 2013: 6).
Jadi dalam penelitian
kualitatif tidak berupa angka-angka seperti halnya penelitian kuantitatif,
melainkan berupa gambar-gambar, kata-kata dan bahasa.
2.
Setting Penelitian
Penelitian deskriptif merupakan penelitian yang
tidak dilakukan di lapangan (non eksperimen). Setting penelitian pada
penelitian ini yaitu dengan mengumpulkan sumber dan mengkaji serta mengumpulkan
kajian pustaka.
3.
Data dan Sumber Data
Sumber data adalah subjek dari mana data diperoleh. Yang menjadi sumber
data dalam penelitian ini adalah seluruh cerita pada buku cerita anak yang berjudul Gado-Gado
Rasa Matematika Karya Gol A Gong dan
Tias Tatanka yang berjumlah 10 bab (Gong, 2011). Bab cerita tersebut adalah: “Tragedi
Sambal Kacang”, “Ketika Emak Sakit”, “Membuka Les Privat”, “Murid Pertama”,
“Gara- gara Mukena Pink”, “Study Tour”, “Arachnophobia”, “Bersaing
dengan Andita”, “ Andita dan Muslihat Licik”, “Ayo Sekolah”.
Data yang digunakan dalam penelitian
ini adalah kutipan yang berupa kata-kata, frasa atau kalimat dalam buku
cerita anak berjudul Gado-Gado Rasa Matematika Karya Gol A Gong dan Tias Tatanka yang
mendeskripsikan tentang nilai karakter.
4.
Metode Pengumpulan Data
Tekhnik
pengumpulan data merupakan langkah yang paling utama dalam penelitian (Sugiyono,
2010: 308). Penelitian memiliki tujuan utama yaitu mendapatkan data.
a. Wawancara
Wawancara merupakan
salah satu teknik pengumpulan data dilihat dari segi cara. “Wawancara ini akan digunakan
sebagai teknik pengumpulan data karena peneliti ingin melakukan studi
pendahuluan untuk menemukan permasalahan yang harus diteliti, dan juga apabila
peneliti ingin mengetahui hal-hal dari responden yang lebih mendalam” (Sugiyono,
2010: 317). Jadi peneliti melakukan wawancara kepada para guru dan orang tua
tentang karakter siswa/ anaknya selama ini, upaya yang telah dilakukan dalam
membentuk karakter siswa dan pemahaman guru/orang tua mengenai manfaat cerita
berkarakter dalam membentuk karakter siswa. Wawancara ini bertujuan untuk mendapatkan
isu permasalahan yang akan dijadikan sebagai latar belakang.
b. Dokumentasi.
Menurut Sugiyono (2010), “dokumen merupakan catatan
peristiwa yang sudah berlalu”. Dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar, atau
karya- karya monumental dari seseorang. Dokumen juga ada yang berbentuk karya
misalnya karya seni, yang berupa gambar, patung, film, sastra dan lain-lain.
Dalam penelitian ini yang
didokumentasikan berupa foto yang diambil ketika melakukan wawancara
dengan guru sekolah dasar dan orang tua siswa. Kemudian buku cerita akan
dianalisis menggunakan tabel. Berikut
adalah gambar tabel data:
|
Judul:
|
|||
|
No.
|
Kalimat
|
Karakter
|
Halaman
|
|
|
|
|
|
5.
Pengecekan Keabsahan Data
Dalam pengujian
keabsahan data, metode penelitian kualitatif menggunakan istilah yang berbeda
dengan penelitian kuantitatif. Cara pengujian kredibilitas data hasil
kualitatif ini akan dilakukan dengan tekhnik membaca ulang, ketekunan
pengamatan, konsultasi, dan diskusi teman sejawat.
6.
Teknik Analisis Data
Menurut
Bogdan (dalam Sugiono, 2010: 334) “analisis data adalah proses mencari dan
menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan
lapangan, dan bahan-bahan lain sehingga dapat mudah dipahami, dan temuannya
dapat diinformasikan kepada orang lain”. Menurut Sugiono (2010: 337-345) langkah-langkah dalam analisis data , yaitu data reduction, data display, dan conclusion
drawing/ verification.
a. Data reduction (Reduksi data) adalah merangkum,
memilih hal-hal yang pokok dan memfokuskan pada hal-hal yang penting serta menyingkirkan
data yang dipandang kurang penting .
b. Data display (Penyajian data) adalah cara
yang dilakukan untuk memudahkan untuk memahami data-data. Dalam penelitian kualitatif, yang paling
sering adalah dengan teks yang bersifat naratif. Akan tetapi bisa juga dalam
bentuk uraian singkat, bagan, dan sejenisnya.
c. Conclusion drawing/ verification. (verifikasi
dan simpulan) adalah mengecek kembali (diverifikasi) pada catatan-catatan yang telah
dibuat oleh peneliti dan selanjutnya membuat simpulan-simpulan sementara.
Teknik
analisis data adalah cara yang digunakan untuk menganalisis data yang diperoleh
dari pengumpulan data dan mendapatkan data sesuai dengan tujuan penelitian. Dalam
menganalisis data ini dilakukan tahap-tahap sebagai berikut:
1)
Membaca buku cerita anak berjudul
Gado-Gado Rasa Matematika karya Gol A Gong dan Tias Tatanka.
2)
Menganalisis nilai karakter pada buku
cerita anak berjudul Gado-Gado Rasa Matematika karya Gol A Gong dan Tias
Tatanka.
3)
Melakukan konsultasi kepada pembimbing 1
dan II untuk melihat hasil analisis
nilai karakter pada buku cerita anak berjudul Gado-Gado Rasa Matematika karya
Gol A Gong dan Tias Tatanka.
4)
Menyimpulkan hasil analisis nilai
karakter pada buku cerita anak berjudul Gado-Gado Rasa Matematika karya Gol A
Gong dan Tias Tatanka .
DAFTAR PUSTAKA
Adisusilo,
Sutarjo. 2012. Pembelajaran Nilai
Karakter. Jakarta: Rajawali Pers.
Gong, A Gol
dan Tias Tatanka. 2011. Gado-Gado Rasa
Matematika. Jakarta: Zikrul Kids.
Hadid, Zubaral. 2013. Analisis Pesan Moral Dalam Kumpulan Kisah Abu Nawas Karya Rahimsyah Bagi
Siswa Sekolah Dasar.
Skripsi. Semarang: Fakultas Ilmu Pendidikan IKIP PGRI Semarang ( tidak
diterbitkan ).
Haryanto. 2012. Pengertian
Pendidikan Karakter.
http://belajarpsikologi.com/pengertian-pendidikan-karakter/. Diakses jam 15.40,
November 2013.
Kuwado, Fabian Januarius. 2012. 82 Pelajar Tewas Sia-sia karena Tawuran. http://megapolitan.kompas.com/read/2012/12/21/10534239/82.Pelajar.Tewas.Siasia.karena.Tawuran. Diakses jam 14.40 November 2013.
Moleong, Lexy J.
2013. Metodologi Penelitian Kualitatif.
Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Munaris. 2011. Pemanfaatan
Buku Kecil-Kecil Punya Karya Sebagai
Bahan Pembelajaran Sastra Untuk Pengembangan Karakter . Jurnal
Pendidikan Karakter, Tahun I, Nomor 1, Oktober 2011
Noor, Rohinah M.
2011. Pendidikan Karakter Berbasis Sastra:
Solusi Pendidikan Moral Yang Efektif. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.
Nurgiyantoro,
Burhan. 2010. Sastra Anak, Pengantar
Pemahaman Dunia Anak. Yogyakarta: Gadjah
Mada University Press.
Purwono. 2012. Studi Kepustakaan.
http://www.perkuliahan.com/apa-pengertian-studi-kepustakaan/. Diakses jam
14.36, November 2013.
Sarumpaet, Riris
K. Toha. 2010. Pedoman Penelitian Sastra
Anak. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.
Setiowati, Ririn . 2013. Analisis Nilai - Nilai Moral
Dalam Novel Bintang Anak Tuhan Karya Kirana Kejora. Artikel
E-Journal. http://jurnal.umrah.ac.id/wp-content/uploads/2013/08/Ririn-S-090388201270.pdf. Diakses jam 23.49 November
2013.
Sihabudin,dkk. 2009. Bahasa Indonesia 2. http://180.247.222.105/ebook1/Pendidikan/PGMI/12.%20Bahasa%20Indonesia%202/Materi%20Perkuliahan/Pendahulu%20BI-2.pdf . Diakses jam 14.40
Sudrajat,
Ajat. 2011. Mengapa Pendidikan Karakter?.
Jurnal Pendidikan Karakter, Tahun I, Nomor 1, Oktober 2011
Sugiyono.
2010. Metode Penelitian Pendidikan (
Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D). Bandung: Penerbit
Alfabeta.
Suharjana. 2012. Kebiasaan
Berperilaku Hidup Sehat Dan Nilai-Nilai Pendidikan Karakter. Jurnal Pendidikan Karakter, Tahun
II, Nomor 2, Juni 2012
Yosvidar, Indra. 2012. Gara-Gara Futsal, Puluhan Siswa SD Tawuran. http://news.okezone.com/read/2012/04/20/340/615283/gara-gara-futsal-puluhan-siswa-sd-tawuran. Diakses jam 14.40 November 2013.
Zubaedi.
2011. Desain Pendidikan Karakter,
Konsepsi dan Aplikasinya dalam Lembaga Pendidikan. Jakarta: Kencana.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar