Sabtu, 02 Januari 2016

PROPOSAL SKRIPSI KUALITATIF



NILAI KARAKTER DALAM BUKU CERITA ANAK BERJUDUL GADO-GADO RASA MATEMATIKA KARYA GOL A GONG DAN TIAS TATANKA



PROPOSAL SKRIPSI




OLEH
ISMAWATI
NPM 1010207



PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PGRI SEMARANG
2014

NILAI KARAKTER DALAM BUKU CERITA ANAK BERJUDUL GADO-GADO RASA MATEMATIKA KARYA GOL A GONG DAN TIAS TATANKA



PROPOSAL SKRIPSI

Diajukan kepada Fakultas Ilmu Pendidikan
Universitas PGRI Semarang untuk Penyusunan Skripsi



OLEH
ISMAWATI
NPM 1010207


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PGRI SEMARANG
2014


PROPOSAL SKRIPSI

NILAI KARAKTER DALAM BUKU CERITA ANAK BERJUDUL GADO-GADO RASA MATEMATIKA KARYA GOL A GONG DAN TIAS TATANKA


Disusun dan diajukan oleh :
ISMAWATI
NPM 10120207


Telah disetujui oleh pembimbing untuk dilanjutkan untuk
Disusun menjadi skripsi
Pada tanggal .......................................







Pembimbing I,


Dr. Rahmat Rais, M. Ag
NPP. 104. 401. 266
Pembimbing II,


Riris Setyo Sundari, S.Pd.,M.Pd.
NPP. 108701279









 PROPOSAL SKRIPSI

NILAI KARAKTER DALAM BUKU CERITA ANAK BERJUDUL GADO-GADO RASA MATEMATIKA KARYA GOL A GONG DAN TIAS TATANKA

A.    Konteks Penelitian
Kasus-kasus yang mengindikasikan rendahnya karakter manusia di Indonesia semakin merajalela. Banyak pemberitaan-pemberitaan tentang tindakan tidak bekarakter yang dilakukan oleh anak-anak. Contohnya  kasus di Palu, gara-gara futsal, puluhan siswa SD tawuran (Yosvidar, 2012). Masih banyak kasus-kasus yang sejenis.
Data akhir tahun yang dihimpun Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) menunjukan angka memprihatinkan. Sebanyak 82 pelajar tewas sepanjang2012. “Komnas PA mencatat 147 kasus tawuran. Dari 147 kasus tersebut, sudah memakan korban jiwa sebanyak 82 anak”, ujar Arist dalam konferensi pers catatan akhir tahun di Kantor Komnas PA, Jalan TB Simatupang, Pasar Rebo, Jakarta Timur, Jumat (20/12/2012) pagi. Menurut Arist, angka itu mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya yang hanya mencapai 128 kasus. Kondisi itu pun semakin menunjukkan kekerasan sesama anak dalam bentuk tawuran menjadi fenomena sosial yang patut diwaspadai (Kuwado, 2012).
Anak-anak saja sudah menampakkan karakter yang bobrok. Lantas, bagaimana nasib bangsa ini.
Masalah karakter ini sudah lama menjadi perhatian pemerintah. Seperti yang tercantum dalam UU RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, khususnya pasal 3 yang menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka  mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi siswa agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Tetapi, mengapa masih banyak terjadi kasus-kasus  tidak berkarakter ini.
Peran  sekolah, keluarga dan masyarakat sangat penting dalam hubungannya dengan perkembangan anak. Guru dan kepala sekolah bertanggung jawab atas siswa di sekolah. Namun keluarga dan masyarakatlah yang paling dekat dengan anak-anak. Sekolah, keluarga dan masyarakat harus mampu bekerja sama dalam upaya memberikan keteladanan dengan karakter yang baik pada anak. Pengawasan dan keteladanan sangat perlu diberikan.
Pembentukan karakter pada anak harus dilakukan sejak dini. Salah-satunya adalah dengan membacakan cerita atau  sastra pada anak yang merupakan  salah satu cara berkomunikasi dengan si kecil. Sastra anak sangat menunjang dalam pembentukan karakter anak. Sastra anak  akan mendekatkan anak pada nilai-nilai dalam kehidupan.
Noor (2011) berpendapat bahwa Nilai-nilai yang terkandung di dalam karya sastra diresapi oleh anak dan secara tidak sadar merekonstruksi sikap dan kepribadian mereka. Karya sastra selain sebagai penanaman nilai-nilai dan karakter, serta merangsang imajinasi kreativitas anak berpikir kritis melalui rasa penasaran akan jalan cerita dan metafora-metafora yang terdapat di dalamnya.

Orang dewasa  harus tetap selalu membimbing dan mengarahkan anak-anak dalam memilih sastra atau cerita anak. “Buku cerita fiksi anak yang baik adalah buku cerita yang mengantarkan dan berangkat dari kacamata anak” (Nurgiyantoro,  2010: 219). Dan tentunya yang mengandung nilai-nilai karakter.  Jadi anak mudah memahami isi dalam cerita tersebut serta mendapatkan nilai-nilai yang bermakna untuk hidupnya.
Perlu adanya cerita yang menarik untuk dikonsumsi anak-anak. Tokoh utamanya baik untuk ditiru oleh anak-anak. Salah satu cerita anak yang memiliki nilai-nilai karakter positif adalah terdapat dalam buku cerita anak berjudul Gado-Gado Rasa Matematika. Hal ini dapat dilihat dari kutipan-kitipan yang ada di dalam cerita. Contohnya, kutipan tentang kerja keras tokoh yaitu “Yuni bisa mencuci sepulang sekolah, Mak. Lalu Yuni jemur dan akan Yuni setrika keesokan harinya. Boleh ya, Mak?” (Gong, 2011 : 36). Dari kutipan tersebut menggambarkan kerja keras tokoh utama. Yuni rela menggantikan emaknya untuk menjadi buruh cuci baju. Selain itu, ada sebuah kutipan “Karena sudah waktunya shalat Zuhur, Yuni menumpang shalat di ruang setrika” (Gong, 2011: 76). Dari kutipan tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa Yuni adalah anak yang taat beribadah sebagai bukti ketaatannya kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena melaksanakan perintahNya yaitu melaksanakan shalat Zuhur dengan tepat waktu.
Buku Gado-gado Rasa Matematika ini merupakan karya dari seorang penulis yang hebat yaitu Gol A Gong dan Tias Tatanka. Mereka adalah suami istri yang mencintai buku dan anak-anak. Mereka mengelola pusat belajar bernama Rumah Dunia. Rumah Dunia adalah tempat bagi anak-anak dan remaja untuk berkarya. Gol A Gong juga pernah bekerja di Indosiar (1995) sebagai skript writer dan RCTI (1996- 2008) sebagai senior creative. Kini menjadi asisten manajer di Banten TV, TV lokal kebanggaan wong Banten. Sudah sekitar 70 novel ditulisnya.
Dari berbagai karya Gol A Gong dan Tias Tatanka, peneliti memilih buku Gado-Gado Rasa Matematika. Buku cerita anak ini cocok untuk dimanfaatkan sebagai teladan bagi anak-anak. Lihat saja, banyak anak-anak yang tidak bersemangat untuk belajar dengan baik. Hal ini dapat kita buktikan dari semakin banyaknya kasus tawuran oleh pelajar. Dalam cerita ini, mencontohkan perjuangan seorang anak untuk tetap melanjutkan sekolahnya. Oleh karena itu penting menganalisis buku cerita anak yang berjudul Gado-Gado Rasa Matematika untuk mengetahui nilai-nilai karakter  apa saja yang ingin disampaikan penulis pada pembaca sehingga diharapkan dapat memberikan cerita teladan dengan nilai karakter yang baik dan sesuai dengan perkembangan anak. Dan pada akhirnya, peneliti bermaksud melakukan penelitian mengenai nilai karakter dalam buku cerita anak berjudul Gado-Gado Rasa Matematika karya Gol A Gong dan Tias Tatanka.

B.     Fokus Penelitian
Dari uraian konteks penelitian, peneliti membuat fokus penelitian. Adapun fokus penelitian tersebut adalah “Apa sajakah nilai karakter dalam buku cerita anak berjudul Gado-Gado Rasa Matematika karya Gol A Gong dan Tias Tatanka”.

C.    Tujuan Penelitian
Setiap penelitian pasti memiliki sebuah tujuan tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis nilai karakter dalam buku cerita anak berjudul Gado-Gado Rasa Matematika karya Gol A Gong dan Tias Tatanka yang mendidik karakter anak.

D.    Manfaat Penelitian
1.      Secara teoritis
a.       Bagi guru,
1)        Menambah bahan kajian untuk lebih berinovasi dan kreatif dalam menganalisis nilai karakter dalam buku cerita anak berjudul Gado-Gado Rasa Matematika karya Gol A Gong dan Tias Tatanka ini.
2)        Menambah wawasan dan pengetahuan tentang nilai- nilai karakter dalam buku cerita anak berjudul Gado-Gado Rasa Matematika karya Gol A Gong dan Tias Tatanka.
b.      Bagi penulis,
1)      Menambah pengalaman baru sebagai acuan untuk penelitian yang akan datang.

2.      Secara praktis
a.       Bagi guru, sebagai bahan pertimbangan untuk menanamkan nilai karakter yang baik melalui buku cerita anak berjudul Gado-Gado Rasa Matematika karya Gol A Gong dan Tias Tatanka ini
b.      Bagi siswa, sebagai teladan dan motivasi untuk menjadi pribadi yang memiliki nilai karakter yang lebih baik.
c.       Bagi orang tua, sebagai solusi untuk mendidik karakter anak sejak dini.
d.      Bagi Perpustakaan sekolah, sebagai referensi untuk penambahan buku yang bernilai karakter.

E.      Penegasan Istilah
Supaya tidak menimbulkan salah penafsiran yang berkaitan dengan judul. Dalam penelitian ini perlu adanya penjelasan, antara lain:
1.      Nilai
Menurut Steeman (dalam Adisusilo, 2012: 56) “Nilai adalah sesuatu yang memberi makna pada hidup, yang memberi acuan, titik tolak dan tujuan hidup”.
2.       Karakter
“Karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan  dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya dan adat istiadat” (Zubaedi, 2011: 10). Jadi dapat disimpulkan karakter adalah sifat-sifat baik dalam diri seseorang yang tercermin dalam pola pikir, perasaan, perkataan dan perbuatannya. Karakter seseorang dapat dibentuk dan juga dikembangkan.
3.      Cerita Anak
Cerita anak adalah cerita yang ditulis untuk anak. Cerita anak merupakan salah satu  dari sastra anak. Secara teoritis, sastra anak adalah sastra yang dibaca anak-anak “dengan bimbingan dan pengarahan anggota dewasa suatu masyarakat, sedang penulisannya juga dilakukan oleh orang dewasa” Davis dalam Sarumpaet (2010: 2).
“Buku cerita fiksi anak yang baik adalah buku cerita yang mengantarkan dan berangkat dari kacamata anak” (Nurgiyantoro,  2010: 219). Jadi anak mudah memahami isi dan makna yang terkandung dalam cerita tersebut baik secara tersirat maupun tersurat.


4.      Gado-Gado Rasa Matematika
Buku cerita anak yang berjudul Gado-Gado Rasa Matematika ini  menceritakan perjuangan seorang anak untuk melanjutkan sekolahnya ke SMP. Anak itu bernama Yuni. Yuni adalah seorang siswi SD Tunas Muda. Walau sudah kelas enam SD, perawakannya mungil dan imut. Yuni berasal dari keluarga yang tidak mampu. Sejak Abah meninggal dunia, emaknya terpaksa berjualan gado-gado untuk menghidupi mereka sekeluarga. Meskipun Yuni anak yang cerdas, ia terancam tidak bisa melanjutkan sekolah ke SMP karena tidak ada biaya. Penghasilan Emak berjualan gado-gado dan sebagai buruh cuci hanya cukup untuk dimakan sehari-hari. Yuni juga rela menjadi buruh cuci di rumah Andita, teman sekelasnya. Setelah tugas mencucinya selesai, Yuni pun mengajar les matematika. Banyak sekali perjuangan dan pengorbanan yang dilakukan Yuni hingga akhirnya dia bisa melanjutkan sekolahnya ke SMP.

F.     Kajian Teori
1.      Cerita Anak
a.       Hakikat Cerita Anak
Karakteristik cerita anak tidak berbeda halnya dengan hakikat sastra pada umumnya. Secara teoritis, sastra anak adalah sastra yang dibaca anak-anak “dengan bimbingan dan pengarahan anggota dewasa suatu masyarakat, sedang penulisannya juga dilakukan oleh orang dewasa” (Davis dalam Sarumpaet, 2010: 2). Jadi, orang tua dan juga guru serta orang dewasa yang lain harus tetap memberikan bimbingan kepada anak perihal bacaan yang memiliki karakter baik dan sesuai dengan anak.
“Sastra anak adalah sastra yang secara emosional psikologis dapat ditanggapi dan dipahami oleh anak, dan itu pada umumnya berangkat dari fakta yang kongkret dan mudah diimajinasikan” (Nurgiyantoro, 2010: 6). Jadi isi kandungan dalam sastra anak harus sesuai dengan pengalaman dan pengetahuan serta dunia anak. Seperti pendapat Lukens (dalam Nurgiyantoro, 2010: 10) “Cerita anak adalah cerita yang menceritakan tentang gambar-gambar dan binatang-binatang maupun manusia dengan lingkungan”.
Cerita yang baik adalah cerita yang dapat menyampaikan pesan kepada sasarannya. Untuk itu perlu memiliki konsep dasar yang jelas. Konsep dasar cerita anak terdiri atas tiga hal utama berikut: 1) Keterlibatan, 2) Berada dalam dunia anak, 3) Memiliki nilai pesan.

b.      Manfaat Cerita Anak
Cerita anak memiliki manfaat yang besar untuk perkembangan anak dalam menyongsong kehidupannya.
Lewat cerita anak, bahkan kita yang dewasa, dapat memperoleh, mempelajari, dan menyikapi berbagai persoalan hidup dan kehidupan, manusia dan kemanusiaan. Cerita menawarkan dan mendialogkan kehidupan dengan cara-cara yang menarik dan konkret. Lewat berbagai cerita tersebut anak, dan sesekali lagi juga kita yang dewasa, memperoleh berbagai informasi yang diperlukan dalam kehidupan (Nurgiyantoro, 2010: 2)

          “Anak akan secara total masuk dan terlibat dalam alur cerita yang dibaca atau didengarnya  seolah-olah diri sendiri ikut serta didalamnya” (Nurgiyantoro, 2010: 67). Jadi sebagai orang dewasa baik orang tua maupun guru harus pintar dalam memilihkan bacaan yang sesuai  dengan anak.
Menurut Sihabudin, dkk (2009), Ditinjau dari berbagai aspek, manfaat cerita bagi anak adalah sebagai berikut: 1) Membantu pembentukan pribadi dan moral anak, 2) Menyalurkan Kebutuhan imajinasi dan fantasi, 3) Memacu kemampuan verbal anak, 4) Merangsang minat menulis anak, 5) Merangsang minat baca anak, 6) Membuka cakrawala pengetahuan anak.

c.       Unsur Cerita Anak
Di dalam sebuah sastra memiliki elemen yang membentuknya. Elemen tersebut adalah unsur intrinsik dan ekstrinsik. Menurut Nurgiyantoro (2010: 221), bahwa “unsur intrinsik adalah unsur-unsur cerita fiksi yang secara langsung berada di dalam, menjadi bagian, dan ikut membentuk eksistensi cerita yang bersangkutan”.
Dalam pembicaraan unsur cerita fiksi anak berikut lebih difokuskan terhadap unsur-unsur intrinsik tanpa menisbikan peran unsur ekstrinsik.
1)      Tokoh
a)      Hakikat Tokoh
Tokoh cerita dimaksudkan sebagai pelaku yang dikisahkan perjalanan hidupnya dalam cerita fiksi lewat alur baik sebagai pelaku maupun penderita berbagai peristiwa yang diceritakan. Tokoh- tokoh cerita fiksi hadir sebagai seseorang yang berjati diri, bukan sebagai sesuatu yang tanpa karakter. Hal itulah yang membedakan antara tokoh yang satu dengan tokoh yang lainnya. Lukens (dalam Nurgiyantoro, 2010: 75) berpendapat bahwa “tokoh cerita dapat dipahami sebagai kumpulan kualitas mental, emosional, dan sosial yang membedakan seseorang dengan orang lain”.
b)      Jenis Tokoh
Menurut Nurgiyantoro (2010: 224) jenis tokoh cerita fiksi anak dapat dibedakan ke dalam bermacam kategori tergantung dari sudut pandang mana kita melihatnya. Misalnya, jika dilihat berdasarkan realitas sejarah, tokoh dapat dibedakan ke dalam tokoh rekaan dan tokoh sejarah, Berdasarkan wujudnya dapat dibedakan ke dalam tokoh manusia, binatang atau objek lain, berdasarkan kompleksitas karakter dapat dibedakan ke dalam tokoh sederhana dan tokoh bulat, dan lain-lain.
Tokoh Rekaan dan tokoh sejarah. Tokoh- tokoh cerita fiksi juga merupakan tokoh rekaan. Artinya mereka bukan merupakan tokoh yang secara faktual dapat ditemukan di dunia nyata atau di dalam sejarah. Tokoh-tokoh itu adalah imajinatif, dalam arti tokoh yang diciptakan lewat kekuatan imajinatif pengarang. Tokoh sejarah yang diangkat ke dalam cerita fiksi juga tidak dapat seratus persen mempertahankan jati dirinya yang sesungguhnya. Hal itu terutama disebabkan hakikat fiksi adalah karya imajinatif yang di dalamnya terkandung unsur penciptaan. Hal itu sepintas seperti bertentangan dengan hakikat sejarah yang bersifat empirik dan tidak dapat dimanipulasikan. Namun, kedua hal tersebut yaitu kutup rekaan dan historis dapat dipadukan lewat kerja imajinatif dalam bentuk cerita.
Tokoh Protagonis dan antagonis. Tokoh protagonis adalah tokoh yang berkarakter baik dan tokoh antagonis adalah tokoh yang berkarakter jahat. Tokoh protagonis ini pulalah yang sering dijadikan pahlawan, karena “bertugas” membawakan nilai-nilai yang sering menjadi idealisme pembaca. Sebaliknya, tokoh antagonis sering menjadi tokoh yang disikapi secara antipati oleh pembaca karena sifatnya yang jahat. Cerita fiksi menjadi menarik dan bahkan mencekam karena terjadi pertentangan di antara kedua kelompok tokoh yang berseberangan tersebut.
Tokoh putih dan hitam. Istilah tokoh putih dan tokoh hitam lazimnya dimaksudkan untuk menyebut tokoh yang berkarakter baik dan buruk. Tokoh protagonis yang merupakan tokoh hero di atas dikategorikan sebagai tokoh putih , yaitu yang berkarakter baik dan sekaligus membawakan dan memperjuangkan nilai- nilai kebenaran. Sebaliknya, tokoh antagonis yang pada dasarnya sebagai tokoh berkarakter jahat dan sebagai pemicu konflik dan pertentangan – pertentangan dikategorikan sebagai tokoh hitam.
Tokoh datar dan tokoh bulat. Pembagian karakter tokoh cerita ke dalam karakter datar ( flat character) dan bulat ( round character) berasal dari Forster), yaitu berkaitan dengan kadar kompleksitas karakter seorang tokoh cerita. Semakin banyak dan bervariasi karakter seseorang tokoh yang berhasil diidentifikasi, dan bahkan tidak jarang mengejutkan, berarti tokoh tersebut dapat dikategorikan sebagai tokoh bulat. Sedangkan Tokoh berkarakter datar adalah tokoh yang hanya memiliki karakter yang “itu-itu” saja.
Tokoh statis dan berkembang. Tokoh jenis ini ada kaitannya dengan tokoh sederhana dan bulat di atas. Tokoh statis dimaksdukan sebagai tokoh yang secara esensial karakternya tidak mengalami perkembangan. Sejak awal kemunculannya hingga akhir cerita tokoh tidak mengalami perubahan dan perkembangan karakter. Artinya, karakter bersifat konstan, jika baik ia akan terus-menerus terlihat baik, dan demikian juga sebaliknya.Sedangkan tokoh berkembang adalah tokoh yang mengalami perubahan dan perkembangan karakter sejalan dengan alur cerita.
2)      Alur Cerita
Alur berhubungan dengan berbagai hal seperti peristiwa, konflik yang terjadi dan akhirnya mencapai klimaks, serta berbagai kisah itu diselesaikan. Alur berkaitan dengan masalah bagaimana peristiwa, tokoh dan segala sesuatu itu digerakkan, dikisahkan sehingga menjadi sebuah rangkaian cerita yang padu dan nikmat.
3)      Latar
Latar (setting) dapat dipahami sebagai landasan tumpu berlangsungnya berbagai peristiwa dan kisah yang diceritakan dalam cerita fiksi. Latar menunjuk pada tempat, yaitu lokasi di mana cerita itu terjadi, waktu, kapan cerita itu terjadi, dan lingkungan sosial-budaya, keadaan kehidupan bermasyarakat tempat tokoh dan peristiwa terjadi. Kejelasan latar ini penting agar pembaca mampu mengembangkan imajinasinya dan mampu mengikuti alur.
Ada beberapa unsur dalam latar yaitu latar tempat, waktu dan sosial-budaya. Latar tempat merupakan tempat di mana cerita yang dikisahkan itu terjadi. Unsur latar ini penting karena akan membantu anak memahami dan mengembangkan imajinasinya. Latar waktu dimaksudkan kapan terjadinya berbagai macam peristiwa yang dikisahkan dalam cerita fiksi. Sedangkan latar sosial-budaya dipahami sebagai keadaan kehidupan sosial-budaya masyarakat yang diangkat dalam cerita tersebut.
4)      Tema
Tema merupakan dasar pengembangan sebuah cerita. Tema dijabarkan atau dikonkretkan lewat unsur-unsur intrinsik yang lain terutama tokoh, alur, dan latar. Pemahaman terhadap tema suatu cerita fiksi adalah pemahaman terhadap makna cerita itu sendiri. Tema sebuah cerita fiksi merupakan gagasan utama atau makna utama cerita.
5)      Moral
Moral, amanat atau message dapat dipahami sebagai sesuatu yang ingin disampaikan kepada pembaca. Sesuatu itu berkaitan dengan hal yang positif, bermanfaat bagi kehidupan dan mendidik. Moral memang berhubungan dengan masalah baik atau buruk. Akan tetapi moral disini lebih condong pada hal-hal yang baik.
6)      Sudut Pandang
Sudut pandang dapat dipahami sebagai cara sebuah cerita dikisahkan. Sudut pandang pada hakikatnya adalah sebuah cara, strategi atau siasat yang secara sengaja dipilih pengarang untuk mengungkapkan cerita dan gagasannya.

2.      Perkembangan Karakter Anak
Setiap anak memiliki kemungkinan mengalami perubahan pada karakternya. Menurut Piaget (dalam Nurgiyantoro, 2010: 54) Perubahan-perubahan penilaian moral anak yang dimaksud antara lain adalah sebagai berikut:
a.       Penilaian anak kecil terhadap masalah atau tindakan baik dan buruk berdasarkan kemungkinan adanya hukuman dan hadiah yang diperoleh dari dewasa; artinya, anak masih terkendala oleh aturan yang dibuat oleh dewasa. Pada usia anak yang lebih lanjut terdapat standar penilaian tentang baik dan buruk tersebut dari kelompoknya, maka kemudian anak mulai secara sadar memahami situasi kapan dapat membuat aturan sendiri.
b.      Penilaian tingkah laku dalam kacamata anak kecil hanya dapat dibedakan ke dalam baik dan buruk, tidak ada alternatif lain. Pada usia anak yang lebih kemudian terdapat kemauan untuk mempertimbangkan lingkungan dan situasi yang membuat legitimasi adaanya perbedaan pendapat.
c.       Penilaian anak kecil terhadap suatu tindakan cenderung didasar­kan pada konsekuensi yang terjadi kemudian tanpa memperhatikan pelakunya. Namun, dalam usia selanjutnya sebagian anak mulai mengubahnya dengan memperhatikan aspek motivasi daripada sekadar konsekuensi untuk menentukan kelayakan tingkat kesalahan.
d.      Pandangan anak kecil terhadap tingkah laku buruk dengan hukuman berjalan bersama, semakin besar kesalahan akan semakin berat hukumannya. Namun, bagi anak dalam usia yang lebih kemudian, mereka tidak akan begitu saja menerima keadaan itu. Anak mulai ter­tarik untuk mencari hukuman yang lebih fair berdasarkan aturan yang ada di dalam kelompok.
                  Kohlberg dalam Nurgiyantoro (2010: 55) mengidentifikasi perkembangan moral anak kedalam enam tahapan. Keenam tahapan yang dimaksud adalah sebagai berikut. Tahap 1: penghormatan tanpa pemertanyaan terhadap kekuatan yang ada diluar jangkauan; masalh baik dan buruk, boleh dan tidak boleh, ditentukan oleh konsekuensi fisik yang diterima terhadap suatu tindakan yang dilakukan. Tahap 2: hubungan dipandang dalam pemahaman marketplace dari pada loyalitas, keadilan, atau rasa terima kasih. Anak berprinsip bahwa “jika anda mencubit saya, saya pun akan mencubit anda”. Tahap 3: berorientasi pada anak baik, pada tingkah laku yang baik; anak mengkonfirmasikan gambaran stereotip dari tingkah laku orang pada umumnya. Tingkah laku yang baik adalah tingkah laku yang mendapat persetujuan, demikian pula yang sebaliknya. Tahap 4: orientasi sampai ke pemilik otoritas, aturan yang pasti, dan konvensi sosial. Tingkah laku yang baik kini juga dipahami sebagai aktivitas melakukan tugas dan kewajiban, hormat kepada orang lain, dan tunduk pada aturan sosial. Tahap 5: kriteria tingkah laku yang benar kini dipahami atau didasarkan dalam kaitannya dengan aturan umumyang sadar dan yang disetujui oleh atau telah menjadi konvensi masyarakat. Tahap 6: keputusan-keputusan individual kini didasarkan pada kata hati, hati nurani, dan etika yang berlaku secara konsisten dan universal.
Kohlberg dalam Nurgiyantoro (2010: 56) melukiskan tiga tingkatan alasan moral sebagai berikut:
Tingkat 1, pra-conventional morality (anak usia 4-10 tahun) anak masih di bawah pengawasan orang tua dan lain-lain, tunduk pada peraturan untuk mendapatkan hadiah atau menghindari hukuman.
Tingkat 2, conventional morality (anak berusia 10-13 tahun). Anak-anak telah menginternalisasikan figur kekuasaan standar. Mereka patuh terhadap peraturan untuk menyenangkan orang lain atau mempertahankan perintah.
Tingkat 3, post-conventional morality (anak usia 13 tahun atau lebih). Moralitas sepenuhnya internal. Dewasa ini orang-orang telah mengenal beberapa konflik standar moral dan memilih diantara standar tersebut.

3.      Nilai Karakter
Menurut Steeman (dalam Adisusilo, 2012: 56) “Nilai adalah sesuatu yang memberi makna pada hidup, yang memberi acuan, titik tolak dan tujuan hidup”. Nilai adalah sesuatu yang dijunjung tinggi, yang dapat mewarnai dan menjiwai tindakan seseorang. Nilai akan memberikan acuan kepada manusia untuk bisa melalukan hal-hal kebaikan dalam hidupnya. 
Aristoteles dalam sudrajat (2011: 49) mendefiniskan “karakter yang baik sebagai tingkah laku yang benar, tingkah laku yang benar dalam hubungannya dengan orang lain dan juga dengan diri sendiri”. Selain itu, Winataputra (dalam Munaris, 2011: 89) menyatakan “karakter dapat kita maknai sebagai kehidupan berperilaku baik/ penuh kebajikan, yakni berperilaku baik terhadap pihak lain (Tuhan Yang Maha Esa, manusia, dan alam semesta) dan terhadap diri sendiri”. Jadi, Berbuat baik tidak hanya terhadap orang lain, akan tetapi juga terhadap Tuhan Yang Maha Esa, alam semesta dan diri sendiri.
Suyanto dalam Haryanto (2012) juga mendefinisikan “karakter sebagai cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerja sama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa, maupun  negara”. Dalam lingkungan apapun, kepada siapapun dan kapanpun juga kita harus selalu berpikir dan berperilaku yang baik. Karena dalam hidup ini kita tidak sendirian, akan tetapi hidup bersosial dengan yang lain.
Dari semua pendapat tentang  karakter, peneliti dapan mengambil sebuat kesimpulan. Disini dapat disimpulkan bahwa karakter itu adalah pola pikir, pola sikap dan pola perilaku yang harus kita laksanakan dalam kehidupan ini baik yang berhubungan dengan Sang Pencipta, sesama manusia, alam semesta dan diri kita sendiri. Jadi, setiap dari kita wajib memikili karakter yang baik.
Banyak karakter yang perlu dikembangkan. Agar terciptanya kehidupan yang lebih nyaman. Zulhan dalam Suharjana (2012: 193) menyatakan bahwa karakter manusia yang perlu dikembangkan adalah: a. jujur, menepati janji, memiliki loyalitas tinggi, integritas pribadi (komitmen, disiplin, selalu ingin berprestasi); b. mementingkan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi, siap dengan perbedaan dan tidak merasa diri paling benar; c. bertanggung jawab; d. sikap terbuka, tidak memihak, mau mendengarkan orang lain, dan memiliki empati; dan e. menunjukkan perilaku kebaikan, hidup dengan nilai-nilai kebenaran, berbagi kebahagiaan dengan orang lain, bersedia menolong orang lain, tidak egois, tidak kasar, dan sensitif terhadap perasaan orang lain.
Menurut Sudrajat (2011: 55-56) Nilai-nilai yang ditanamkan dan dikembangkan pada sekolah-sekolah di Indonesia beserta deskripsinya adalah sebagai berikut:
1) Religius. Sikap dan perilaku patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain. 2) Jujur. Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan. 3) Toleransi. Sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya. 4) Disiplin. Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan. 5) Kerja Keras. Perilaku yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan belajar dan tugas, serta menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya. 6) Kreatif. Berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari sesuatu yang telah dimiliki. 7) Mandiri. Sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas. Demokratis. Cara berfikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain. 9) Rasa Ingin Tahu. Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajarinya, dilihat, dan didengar. 10) Semangat Kebangsaan. Cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya. 11) Cinta Tanah Air. Cara berfikir, bersikap, dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsa. 12) Menghargai Prestasi. Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain. 13) Bersahabat/Komuniktif. Tindakan yang memperlihatkan rasa senang berbicara, bergaul, dan bekerja sama dengan orang lain. 14) Cinta Damai. Sikap, perkataan, dan tindakan yang menyebabkan orang lain merasa senang dan aman atas kehadiran dirinya. 15) Gemar Membaca. kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya. 16) Peduli Lingkungan. Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi. 17) Peduli Sosial. Sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan. 18) Tanggung-jawab. Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan budaya), negara dan Tuhan Yang Maha Esa.

4.      Kajian Hasil Penelitian Yang Relevan
Penelitian tentang cerita anak  pernah dilakukan oleh Zubaral Hadid. Masalah yang dikaji dalam penelitian ini adalah “Apa sajakah pesan moral dalam kumpulan Kisah Abu Nawas karya Rahimsyah bagi siswa sekolah dasar?”. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis pesan moral dalam kumpulan Kisah Abu Nawas karya Rahimsyah bagi siswa sekolah dasar. Diharapkan penelitian ini dapat memberikan pesan moral yang baik bagi siswa Sekolah Dasar. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian sastra yang bersifat deskriptif kualitatif. Penelitian ini menganalisis seluruh kisah Abu Nawas pada buku kumpulan kisah Abu Nawas karya Rahimsyah yang berjumlah 25 cerita (Rahimsyah, 2011). Judul cerita yaitu: “Abu Nawas Gila”, “Memindahkan Istana ke Atas Gunung”, “Abu Nawas Mendemo Tuan Kadi”, “Membalas Perbuatan Raja”, “Mengecoh Raja”, “Debat Kusir tentang Ayam”, “Mengecoh Gajah”, “Pekerjaan yang Mustahil”, “Memenjarakan Angin”, “Ibu Sejati”, “Hadiah Bagi Tebakan Jitu”, “Pintu Akhirat”, “Diusir dari Baghdat”, “Merayu Tuhan”, “Raja Dijadikan Budak”, “Abu Nawas Mati”, “Memantati Raja”, “Ketenangan Hati”, “Manusia Bertelur”, “Peringatan Aneh”, “Menjadi Tabib”, “Pilihan yang Tepat”, “Strategi Maling”, “Menjebak Pencuri”, “Tipu Dibalas Tipu”, dan “Tugas yang Mustahil”. Berdasarkan hasil penelitian tersebut  dapat disimpulkan bahwa terdapat banyak nilai moral dalam kisah Abu Nawas karya Rahimsyah. Nilai moral tersebut terwujud melalui bahasa yang digunakan, cara bercakap-cakap, dan tindakan yang dilakukan. Nilai moral tersebut bersifat mendidik, menasihati, dan memberi contoh untuk berbuat yang lebih baik.
Penelitian juga telah diteliti oleh Munaris yaitu Pemanfaatan Buku Kecil-Kecil Punya Karya Sebagai Bahan Pembelajaran Sastra Untuk Pengembangan Karakter. Kecil-Kecil Punya Karya ( KKPK ) merupakan label/nama seri terbitan karya sastra yang ditulis oleh anak-anak yang di terbitkan oleh Dar! Mizan. KKPK lahir pada Desember 2003. Penulis yang pertama kali mengusung seri KKPK adalah Sri Izzati, 8 tahun (Pengantar Penerbit dalam Salsa, 2011). Salah satu keunggulan menjadikan KKPK sebagai bahan belajar sastra adalah karya ini terbebas dari pornografi karena penulis-penulis KKPK adalah anak-anak. Karya sastra yang diterbitkan oleh Dar! Mizan yang berlabel Kecil-kecil Punya Karya (KKPK) cocok untuk anak, terutama usia SD karena memang karya sastra tersebut dikarang dan diperuntukkan oleh dan untuk anak. Berkaitan dengan pendidikan karakter, karya sastra dalam KKPK dapat dijadikan bahan bacaan dengan dipilih yang sesuai dengan karakter yang hendak ditanamkan pada siswa. Kutipan-kutipan dari KKPK tersebut merupakan contoh adanya bahan untuk menanamkan nilai karakter melalui  cerita anak. Karakter yang terkandung dalam KKPK tersebut diantararanya adalah cinta Tuhan dan kebenaran, baik dan rendah hati, tanggung jawab, mandiri, lapang dada dan pantang menyerah.

G.    Metodologi Penelitian
1.      Pendekatan Penelitian
Secara umum metode penelitian diartikan sebagai cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Kunci dalam penelitian adalah menggunakan cara ilmiah, data tujuan, dan kegunaan tertentu. “Cara ilmiah berarti kegiatan penelitian didasarkan pada ciri-ciri keilmuan, yaitu rasional, empiris, dan sistematis” (Sugiyono, 2010: 3).
Dalam penelitian ini akan menggunakan pendekatan penelitian kualitatif.
Pendekatan kualitatif adalah penelitian yang dimaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subyek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dll., secara holistik, dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah ( Moleong, 2013: 6).
Jadi dalam penelitian kualitatif tidak berupa angka-angka seperti halnya penelitian kuantitatif, melainkan berupa gambar-gambar, kata-kata dan bahasa.

2.      Setting Penelitian
Penelitian deskriptif merupakan penelitian yang tidak dilakukan di lapangan (non eksperimen). Setting penelitian pada penelitian ini yaitu dengan mengumpulkan sumber dan mengkaji serta mengumpulkan kajian pustaka.

3.      Data dan Sumber Data
Sumber data adalah subjek dari mana data diperoleh. Yang menjadi sumber data dalam penelitian ini adalah seluruh cerita  pada buku cerita anak yang berjudul Gado-Gado Rasa Matematika Karya  Gol A Gong dan Tias Tatanka yang berjumlah 10 bab (Gong, 2011). Bab cerita tersebut adalah: “Tragedi Sambal Kacang”, “Ketika Emak Sakit”, “Membuka Les Privat”, “Murid Pertama”, “Gara- gara Mukena Pink”, “Study Tour”, “Arachnophobia”, “Bersaing dengan Andita”, “ Andita dan Muslihat Licik”, “Ayo Sekolah”.
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah kutipan yang berupa kata-kata, frasa atau kalimat dalam buku cerita anak berjudul Gado-Gado Rasa Matematika Karya  Gol A Gong dan Tias Tatanka yang mendeskripsikan tentang nilai karakter.

4.      Metode Pengumpulan Data
Tekhnik pengumpulan data merupakan langkah yang paling utama dalam penelitian (Sugiyono, 2010: 308). Penelitian memiliki tujuan utama yaitu mendapatkan data.
a.       Wawancara
Wawancara merupakan salah satu teknik pengumpulan data dilihat dari segi cara. “Wawancara ini akan digunakan sebagai teknik pengumpulan data karena peneliti ingin melakukan studi pendahuluan untuk menemukan permasalahan yang harus diteliti, dan juga apabila peneliti ingin mengetahui hal-hal dari responden yang lebih mendalam” (Sugiyono, 2010: 317). Jadi peneliti melakukan wawancara kepada para guru dan orang tua tentang karakter siswa/ anaknya selama ini, upaya yang telah dilakukan dalam membentuk karakter siswa dan pemahaman guru/orang tua mengenai manfaat cerita berkarakter dalam membentuk karakter siswa. Wawancara ini bertujuan untuk mendapatkan isu permasalahan yang akan dijadikan sebagai latar belakang.
b.      Dokumentasi.
Menurut Sugiyono (2010), “dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu”. Dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya- karya monumental dari seseorang. Dokumen juga ada yang berbentuk karya misalnya karya seni, yang berupa gambar, patung, film, sastra dan lain-lain.
Dalam penelitian ini yang  didokumentasikan berupa foto yang diambil ketika melakukan wawancara dengan guru sekolah dasar dan orang tua siswa. Kemudian buku cerita akan dianalisis menggunakan tabel. Berikut adalah gambar tabel data:
Judul:
No.
Kalimat
Karakter
Halaman














5.      Pengecekan Keabsahan Data
Dalam pengujian keabsahan data, metode penelitian kualitatif menggunakan istilah yang berbeda dengan penelitian kuantitatif. Cara pengujian kredibilitas data hasil kualitatif ini akan dilakukan dengan tekhnik membaca ulang, ketekunan pengamatan, konsultasi, dan diskusi teman sejawat.

6.      Teknik Analisis Data
Menurut Bogdan (dalam Sugiono, 2010: 334) “analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan bahan-bahan lain sehingga dapat mudah dipahami, dan temuannya dapat diinformasikan kepada orang lain”. Menurut Sugiono (2010: 337-345)  langkah-langkah dalam analisis data , yaitu data reduction, data display, dan conclusion drawing/ verification.
a.       Data reduction (Reduksi data) adalah merangkum, memilih hal-hal yang pokok dan memfokuskan pada hal-hal yang penting serta menyingkirkan data yang dipandang kurang penting .
b.      Data display (Penyajian data) adalah cara yang dilakukan untuk memudahkan untuk memahami data-data.  Dalam penelitian kualitatif, yang paling sering adalah dengan teks yang bersifat naratif. Akan tetapi bisa juga dalam bentuk uraian singkat, bagan, dan sejenisnya.
c.       Conclusion drawing/ verification. (verifikasi dan simpulan) adalah mengecek kembali (diverifikasi) pada catatan-catatan yang telah dibuat oleh peneliti dan selanjutnya membuat simpulan-simpulan sementara.
Teknik analisis data adalah cara yang digunakan untuk menganalisis data yang diperoleh dari pengumpulan data dan mendapatkan data sesuai dengan tujuan penelitian. Dalam menganalisis data ini dilakukan tahap-tahap sebagai berikut:
1)        Membaca buku cerita anak berjudul Gado-Gado Rasa Matematika karya Gol A Gong dan Tias Tatanka.
2)        Menganalisis nilai karakter pada buku cerita anak berjudul Gado-Gado Rasa Matematika karya Gol A Gong dan Tias Tatanka.
3)        Melakukan konsultasi kepada pembimbing 1 dan II untuk melihat hasil  analisis nilai karakter pada buku cerita anak berjudul Gado-Gado Rasa Matematika karya Gol A Gong dan Tias Tatanka.
4)        Menyimpulkan hasil analisis nilai karakter pada buku cerita anak berjudul Gado-Gado Rasa Matematika karya Gol A Gong dan Tias Tatanka .



DAFTAR PUSTAKA


Adisusilo, Sutarjo. 2012. Pembelajaran Nilai Karakter. Jakarta: Rajawali Pers.

Gong, A Gol dan Tias Tatanka. 2011. Gado-Gado Rasa Matematika. Jakarta: Zikrul Kids.

Hadid, Zubaral. 2013.  Analisis Pesan Moral Dalam Kumpulan Kisah Abu Nawas Karya Rahimsyah Bagi Siswa Sekolah Dasar. Skripsi. Semarang: Fakultas Ilmu Pendidikan IKIP PGRI Semarang ( tidak diterbitkan ).

Haryanto. 2012.  Pengertian Pendidikan Karakter. http://belajarpsikologi.com/pengertian-pendidikan-karakter/. Diakses jam 15.40, November 2013.

Kuwado, Fabian Januarius. 2012. 82 Pelajar Tewas Sia-sia karena Tawuran. http://megapolitan.kompas.com/read/2012/12/21/10534239/82.Pelajar.Tewas.Siasia.karena.Tawuran. Diakses jam 14.40 November 2013.


Moleong, Lexy J. 2013. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Munaris. 2011. Pemanfaatan Buku Kecil-Kecil Punya Karya Sebagai Bahan Pembelajaran Sastra Untuk Pengembangan Karakter . Jurnal Pendidikan Karakter, Tahun I, Nomor 1, Oktober 2011

Noor, Rohinah M. 2011. Pendidikan Karakter Berbasis Sastra: Solusi Pendidikan Moral Yang Efektif. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.

Nurgiyantoro, Burhan. 2010. Sastra Anak, Pengantar Pemahaman Dunia Anak. Yogyakarta:  Gadjah Mada University Press.

Purwono. 2012. Studi Kepustakaan. http://www.perkuliahan.com/apa-pengertian-studi-kepustakaan/. Diakses jam 14.36, November 2013.

Sarumpaet, Riris K. Toha. 2010. Pedoman Penelitian Sastra Anak. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.

Setiowati, Ririn . 2013. Analisis Nilai - Nilai Moral Dalam Novel Bintang Anak Tuhan Karya Kirana Kejora.  Artikel E-Journal. http://jurnal.umrah.ac.id/wp-content/uploads/2013/08/Ririn-S-090388201270.pdf. Diakses jam 23.49 November 2013.

Sihabudin,dkk. 2009. Bahasa Indonesia 2. http://180.247.222.105/ebook1/Pendidikan/PGMI/12.%20Bahasa%20Indonesia%202/Materi%20Perkuliahan/Pendahulu%20BI-2.pdf . Diakses jam 14.40


Sudrajat, Ajat. 2011. Mengapa Pendidikan Karakter?. Jurnal Pendidikan Karakter, Tahun I, Nomor 1, Oktober 2011

Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Pendidikan ( Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D). Bandung: Penerbit Alfabeta.

Suharjana. 2012. Kebiasaan Berperilaku Hidup Sehat Dan Nilai-Nilai Pendidikan Karakter.  Jurnal Pendidikan Karakter, Tahun II, Nomor 2, Juni 2012

Yosvidar, Indra. 2012. Gara-Gara Futsal, Puluhan Siswa SD Tawuran. http://news.okezone.com/read/2012/04/20/340/615283/gara-gara-futsal-puluhan-siswa-sd-tawuran. Diakses jam 14.40 November 2013.


Zubaedi. 2011. Desain Pendidikan Karakter, Konsepsi dan Aplikasinya dalam Lembaga Pendidikan. Jakarta: Kencana.




 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar